Kamis, 02 Juni 2011

membuat skala

bagi teman-teman yang melakukan penitilian dengan metode kuantitatif dibutuhkan skala untuk mengukur kondisi psikologis subjek. banyak yang bilang mbuat skala itu ribet banget, njlimet. tapi sebenarnya gampang kok asal tau peraturan dasarnya. ini peraturan dasar membuat skala:

1. pahami definisi variabel berdasarkan teori utama kemudian buat definisi operasional. ingat masukkan aspek dalam definisi operasional. ini akan menjadi landasan utama dari skala.

2. pahami pengertian aspek dari teori utama kemudian buat definsi operasional. pemahaman peneliti tentang aspek akan sangat mempengaruhi pembentukan indikator. jadi pastikan kalian sudah benar-benar memahami definisi tersebut

3. pikirkan dan tentukan baik-baik indikator-indikator yang dapat menggambarkan aspek. indikator harus ditulis dengan bahasa sederhana. semakin banyak indikator semakin mudah dibedakan dengan indikator aspek lain. 

4. buat aitem favorabel dan unfavorable yang menggambarkan indikator, aspek, dan variabel. jadi buat aitem yang terkait dengan permasalahan subjek. sehingga aitem yang dibuat dapat valid dan reliabel.

5. apabila sudah jadi, cek kembali apakah aitem sudah menggunakan bahasa sehari-hari tapi baku dan mudah dipahami orang. berikan skala kepada teman dan mintalah penilaian teman tentang penggunaan bahasa dalam skala.

SEMOGA DAPAT MEMBANTU
SEMANGAT!

Senin, 02 Mei 2011

Tips Mengatasi Hambatan Skripsi

setelah berdiskusi dengan teman-teman yang lain, saya menemukan kesulitan membuat skripsi.

PERTAMA: bingung bagaimana caranya menulis skripsi dengan baik dan benar. INGAT, penulisan skripsi harus menggunakan kalimat baku dan formal. Saya banyak menjumpai teman-teman menulis skripsi dengan bahasa nonformal atau bahasa sehari-hari.

TIPS agar bisa menulis dengan formal dan baku.
1. banyak baca buku diktat atau jurnal atau artikel ilmiah, sehingga otak kita memiliki referensi kalimat ilmiah
2. membaca buku panduan ejaan bahasa indonesia yang baku, agar kita paham cara penulisan yang baik dan benar

KEDUA: malas membaca buku referensi BERBAHASA INGGRIS. Inilah fungsi belajar ilmu psikologi, kita harus berempati dan bersimpati bahwa baru sedikit para ahli dan ilmuan kita yang membuat buku literatur yang ilmiah.

TIPS agar bisa membaca buku referensi bahasa inggris:
1. baca kalimat secara keseluruhan terlebih dahulu dan pahami isinya, karena terkadang kalau diartikan perkata-kata akan membuat kita semakin pusing 10 keliling. hehehe..
2. setelah mengerti arti keseluruhan, buka kamus dan cari arti kata-kata kunci yang kurang kita pahami. Jadi bisa mempersingkat waktu membaca buku.

KETIGA: susah bertemu dosen. Terutama saat semangat mengerjakan skripsi ternyata dosen tidak bisa ditemui, langsung membuat motivasi turun.

TIPS agar tetap semangat
1. FAKTA: dosen lebih menghargai mahasiswa yang rajin nampang di depan kantor dosen daripada rajin di kamar kos. Jadi sering-seringlah nampang sampai dosen ingat kita dan wajah kita, kalau sudah begitu, akan lebih mudah membuat janji untuk bimbingan.
2. sering-sering berdiskusi dengan teman-teman tentang skripsi, jadi meskipun tidak bisa bimbingan dengan dosen, kita masih bisa memperoleh tambahan informasi dari teman-teman lain.

TETAP SEMANGAT!!!
TETAP SEHAT!!!
TETAP BERKARYA!!!

Sabtu, 02 April 2011

CATATAN EKSPERIMEN

Kemarin membantu penelitian eksprimen teman. Seperti tulisan-tulisanku yang kemaren, tujuan eksperimen untuk mengetahui hubungan sebab akibat dan perubahan yang terjadi pada subjek. 

Perubahan dapat dilihat atau nampak jika ada pembandingan antara kondisi awal dan kondisi akhir. Setuju?

Hasil pembadingan harus sama pada semua subjek agar dapat dikatakan perlakuan yang diberikan. Artinya, kondisi akhir setelah perlakuan harus sama atau paling tidak hampir sama tapi tidak terlalu jauh berbada. Setuju?

Syarat utama agar hasil akhir pembandingan sama maka kondisi awalpun harus sama atau hampir sama.

contoh: pemberian perlakuan afirmasi diri bagi remaja yang rendah diri. Peniliti perlu menentukan tingkat keparahan rendah diri, mulai dari sangat tinggi (sangat rendah diri),  tinggi (rendah diri), sedang (agak rendah diri), rendah (tidak rendah diri), sanngat rendah (sangat tidak harga diri). atau tinggi, sedang, dan rendah. Pemilihan tingkat keparahan melalui pembagian kategori pada skala yang akan digunakan.

Agar terlihat perubahannya, maka kondisi awalnya harus sama atau hampir sama, misal sangat rendah diri, semua subjek yang terpilih harus termasuk orang yang sangat rendah diri. Kemudian diberi perlakuan selama sekian pertemuan. Diakhir pertemuan, peneliti mengetes subjek untuk mengetahui kondisi akhir subjek.
Selanjutnya, peneliti membandingkan kondisi awal dan akhir (bisa dilihat kasat mata atau lewat perhitungan SPSS). Semakin banyak selisih skor awal dan akhir semua subjek semakin valid perlakuan yang diberikan. 
SELAMAT MENCOBA!!!
SEMANGAT!!!

Minggu, 27 Februari 2011

PENGERTIAN ASPEK VARIABEL

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya apa perbedaannya aspek, faktor, dan ciri-ciri/gejala.
sebelum mengulas lebih jauh, kita perlu mengetahui pengertian sederhana dari aspek, faktor, dan ciri-ciri/gejala.

Aspek = sesuatu yang membangun variabel, dapat dikatakan sebagai unsur pembentuk dari variabel
Faktor = sesuatu yang dapat mempercepat atau menghambat pertumbuhan variabel
Ciri-ciri/gejala = sesuatu yang dapat mempermudah peneliti mengidentifikasi variabel 

Masih bingung? akan saya jelaskan lewat contoh
misal variabel marah. 
 aspek marah adalah kognitif, afektif, dan konasi. Orang akan atau dapat marah setelah memperoleh stimulus dan mengolahnya, kemudian menyimpulkan stimulus (kognitif). setelah menyimpulkan orang akan menginterpretasikan (kognitif dan afektif). interpretasi tersebut dapat membuat orang marah jika muncul rasa tidak aman/nyaman/tidak sesuai dengan harapan (afektif). Kemudian orang mewujudkan perasaannya tersebut lewat perilaku verbal (memukul) ataupun nonverbal (mendelik) (konasi)

 Faktor yang mempengaruhi adalah kondisi mood, tempramen, usia, jenis kelamin, pola asuh. orang yang mudah tersinggung, tempramental, berusia dibawah 15 tahu, dan dengan pola asuh otoriter menjadi orang yang sangat mudah marah bahkan untuk sesuatu yang sepele sekalipun seperti buku jatuh ditengah jalan dan beberapa orang melihat.

ciri-ciri orang marah adalah mata mendelik, memukul sesuatu, intonasi suara tinggi.

SEMANGAT SELALU!

Senin, 21 Februari 2011

METODOLOGI KUALITATIF

Metodologi kualitatif pada dasarnya memahami pengalaman subjek secara psikologis dengan cara wawancara dan observasi. Terdapat lima jenis penelitian di metodologi ini:
  1. biografis yaitu meneliti satu individu dan pengalaman-pengalaman hidupnya secara mendalam
  2. fenomenologi yaitu meneliti makna pengalaman hidup beberapa orang tentag fenomena/konsep tertentu
  3. studi kasus yaitu meneliti satu atau beberapa kasus dengan menggali informasi dari beberapa sumber
  4. etnografis yaitu mendeskripsikan dan menginterpretasikan kelompok sosial atau budaya tertentu
  5. grounded teori yaitu meneliti fenomena pada beberapa subjek dengan tujuan memunculkan teori
di Fakultas Psikologi Undip jenis penelitian yang umum digunakan adalah fenomenologis, meskipun begitu tetap ada beberapa mahasiswa menggunakan jenis penelitian yang lain. Pemilihan jenis penelitian tergantung pada kebutuhan penelitian. Jenis yang mana yang paling dapat dan efektif mengungkap permasalahan penelitian.

Nyawa dari penelitian kualitatif ada pada interview dan observasi guide. Oleh karena itu, kedua guide ini HARUS benar dan dapat mengungkap pengalaman subjek. Membuat interview guide pada dasarnya menggunakan prinsip 5w1h. Masih ingat??

Pola yang umum digunakan dalam penelitian fenomenologis persis seperti yang di tulis pak Hans dalam "Pengenalan dan Penyusunan Proposal/Skripsi Penelitian Fenomenologis":
  1. perspektif fenomenologis
  2. fokus penelitian
  3. subjek penelitian. Dalam fenomenologis, tidak ada batas maksimal ataupun minimal jumlah subjek penelitian, yang menjadi patokan jumlah subjek adalah ketersediaan subjek di lapangan. Misal populasi penelitian adalah remaja yang diasuh oleh orangtua tunggal. Subjek dengan karateristik tersebut pastilah banyak karena itu jumlah subjek penelitian pun harus lebih dari dua. Berbeda dengan populasi subjek seperti penderita penyakit langka atau kelainan gen. Selain jumlah subjeknya sedikit, menemukan subjek yang bersedia juga sulit. Oleh karena itu, dua subjek sudah cukup. Kalau benar-benar kasus langka, satu subjek sudah cukup. 
  4. metode pengumpulan data seperti wawancara dan observasi. Penting: selalu rekam baik secara audio atau visual kegiatan kita bersama subjek, dengan catatan atas persetujuan subjek. 
  5.  analisis data
  6. verifikasi
Membuat BAB III kualitatif sangat mudah, karena sebagian besar isinya pada semua penelitian sehingga dapat dicopy paste.

INGAT: Building raport atau pembangunan kepercayaan antara peneliti dengan subjek sangat PENTING! Apabila kepercayaan terjalin baik, subjek dengan sukarela menceritakan semua pengalamannya dan peneliti medapatkan data yang kaya. HINDARI pemaksaan kehendak dan kata-kata yang menilai subjek dengan alasan apapun. Pada saat perkenalan dengan subjek, HINDARI mengutarakan maksuk kita untuk meneliti. Sebagian besar orang tidak suka menjadi subjek penelitian terutama pada kasus yang menjadi aib bagi diri subjek dan keluarga. Lakukan pendekatan sebagai teman, setelah akrab dan subjek percaya pada kita, ungkapkan maksud penelitian secara perlahan dan hati-hati sehingga subjek tidak kaget dan memilih mengundurkan diri.

SELAMAT MENCOBA!!!

Minggu, 20 Februari 2011

METODOLOGI KUANTITATIF

Bagi teman-teman yang ingin meneliti dengan metode ini perlu mengetahui seluk beluknya agar tidak salah langkah. Kita pernah bahas sebelumnya bahwa tujuan dari metode ini adalah mencari hubungan antara dua variabel atau lebih, atau bahasa mudahya membuktikan teori di tempat penelitian. Misal, seorang tokoh meneliti di negara Afrika mengenai kemiskinan dan kriminalitas. Kemudian tokoh ini mendapatkan bahwa semakin rendah pendapatan semakin tinggi tingkat kriminalitas. Itu baru di negara Afrika.
Kita bisa meneliti kembali variabel tersebut di suatu perkampungan kumuh di indonesia. Tujuannya membuktikan apakah teori yang dihasilkan tokoh disuatu tempat juga dapat diterapkan di tempat yang lain.

Cara yang digunakan untuk mengungkap variabel digunakan skala. Nyawa metodologi ini adalah skala. Oleh karena itu, skala harus dibuat sebaik mungkin.

Langkah-langkah membuat BAB III metodologi kuantitatif:
1. Identifikasi Variabel penelitian. Variabel tergantung adalah variabel yang dipengaruhi, sedangkan variabel  bebas adalah variabel yang mempengaruhi. Terkadang ada yang menyamakan dengan variabel Kriterium dan prediktor. Yakinlah itu BEDA. Variabel tergantung dan bebas lebih lazim digunakan dalam penelitian psikologi.

2. Definsi Operasional. Definisi ini sangat penting sebagai tonggak dari pembuatan skala. Polanya adalah kata pertama harus dapat diukur (kemampuan: sangat mampu, tidak mampu, kekhawatiran: sangat khawatir, tidak khawatir), kata selanjutnya berisi aspek dari variabel.
   
  Definisi operasional BERBEDA dengan kesimpulan pengertian di BAB II. Definisi operasional adalah kesimpulan dari pengertian teoritis ditambah dengan peristiwa di lapangan.
Contohnya. kesimpulan definisi teoritis dari kecenderungan kenakalan remaja adalah kecenderungan remaja untuk melakukan tindakan yang melanggar aturan yang dapat mengakibatkan kerugian dan kerusakan baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain yang dilakukan remaja di bawah umur 17 tahun.

Subjek: remaja awal yang pernah mendapat skor lebih dari dua hari dan tinggal bersama orangtua tunggal.

Aspek: perilaku yang melanggar aturan dan status, perilaku yang membahayakan diri, sendiri dan orang lain, perilaku yang mengakibatkan korban materi, dan perilaku yang mengakibatkan korban fisik.

Definisi operasional yang dapat dibuat: kecenderungan kenakalan adalah keinginan remaja dibawah usia 17 tahun untuk melanggar peraturan yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain serta mengakibatkan korban materi dan fisik yang dilatar belakangi oleh kondisi di rumah. 

3. Populasi dan sampel
Populasi adalah subjek secara umum seperti semua remaja awal. Sampel adalah subjek secara khusus sehingga dibutuhkan kriteria subjek untuk mengkhususkan subjek penelitian. Misal: remaja awal usia 12-15 tahun yang bersekolah di STM di Semarang, pernah diskors minimal tiga hari, dan tingggal bersama orangtua tunggal.
4. Metode pengumpulan data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah skala. Sebanarnya mahasiswa memiliki dua pilihan, membuat skala sendiri atau adaptasi skala yang sudah valid. Khusus untuk skala yang adaptasi ada dua syarat yang wajib dipenuhi yaitu pembuat skala HARUS ahli di bidang psikologi (minimal menyandang gelar S2) dan apabila skala asli berbahasa inggris, HARUS sudah divalidasi dalam bahasa indonesia oleh peneliti yang sudah ahli juga (mininal menyandang gelar S2) dan sudah diuji coba di beberapa suku bangsa di indonesia untuk memastikan bahasa sudah dapat diterima oleh semua kalangan.

Untuk skala yang membuat sendiri, pastikan definisi yang digunakan sudah operasional dan mengandung aspek-aspek yang digunakan. Definisikan aspek yang digunakan untuk menegaskan ruang lingkup variabel dalam penelitian ini. Misal: aspek kognitif, definisi operasionalnya kemampuan individu untuk menginterpretasikan perilaku nonverbal seperti ekspresi wajah, gerak tubuh, dan kontak mata orang lain. Sama seperti definisi operasional variabel, definisi aspek pun juga harus menggambarkan indikator yang akan digunakan. Indikatornya: mampu menginterpretasikan ekspresi wajah orang lain, gerak tubuh , dan kontak mata. Setelah menetapkan indikator dilanjutkan dengan membuat aitem. Pembuatan aitem akan lebih mudah karena ruang lingkup sudah pasti sehingga kemungkinan keluar jaur minim.

Penetapan format respon dan pemberian skor perlu dipikirkan baik-baik karena format yang digunakan dapat menggambarkan bentuk data yang digunakan dalam penelitian (nominal/interval/ordinal).

5. Validitas dan Reliabilitas. Untuk ini, kita sudah tidak perlu menggunakan cara manual hanya tinggal mengoperasikan SPSS hasil sudah ditangan.

6. Analisis data. Dalam analisis data peneliti juga perlu berhati-hati. Pemilihan analisis data dipengaruhi oleh:
  • Jumlah subjek penelitian: apabila jumlah subjek 30 atau lebih orang maka menggunakan analisis data untuk parametis seperti analisis regresi. Apabila subjek kurang dari 30 orang maka menggunakan analisis data untuk nonparametris seperti kendall tau. 
  • Jenis data: nominal atau interval atau ordinal. Ketiga jenis data ini memiliki metode analisis data yang berbeda-beda. Misal untuk interval menggunakan T-Test, ordinal menggunakan kendall tau. 
INGAT: Silahkan pikirkan baik-baik pilihan anda, karena setelah ini Anda akan terjun ke lapangan dan tidak mungkin untuk mundur dan mengulang dari BAB I/II/III.

SELAMAT MENCOBA!

Minggu, 13 Februari 2011

BAB II

Membuat BAB II dasarnya adalah memasukkan teori-teori yang dapat menggambarkan atau menjelaskan variabel yang kita ambil. Kalian bebas memasukkan teori apa saja yang berkaitan dengan variabel, jumlah halamannya pun terserah kalian.

WAJIB ADA: teori yang wajib ada adalah pengertian, aspek, dan faktor-faktor yang mempengaruhi. PASTIKAN KALIAN MEMILIKI TEORI UTAMA sebagai landasan skripsi.

Saya tidak dapat memberikan patokan subbab karena setiap dosen memiliki pola dan gaya penulisan yang berbeda-beda.

SELAMATMENCOBA.

Total Tayangan Halaman